Menu Tutup

Perkembangan Permainan Dingdong Di Indonesia Dimulai Pada Awal 1980-an.

Permainan “dingdong” adalah istilah yang populer di Indonesia untuk menyebut mesin permainan arcade, yang memiliki sejarah panjang baik di dunia maupun di tanah air. Secara global, asal-usul permainan dingdong dapat ditelusuri kembali ke akhir abad ke-19, ketika mesin pinball mekanik pertama kali muncul. Mesin ini awalnya sederhana, terbuat dari kayu dan menggunakan bola logam yang dikendalikan secara manual. Pada tahun 1930-an, pinball berevolusi menjadi mesin elektrik yang dioperasikan dengan koin, menjadi cikal bakal permainan arcade modern.

Perkembangan besar terjadi pada tahun 1970-an dengan revolusi teknologi elektronik. Salah satu tonggak penting adalah peluncuran “Pong” oleh Atari pada tahun 1972 di Amerika Serikat. Permainan simulasi pingpong ini menjadi pionir yang mempopulerkan mesin arcade di ruang publik seperti bar dan pusat perbelanjaan. Setelah itu, gelombang permainan arcade seperti “Space Invaders” (1978), “Pac-Man” (1979), dan “Donkey Kong” (1981) menyusul, menciptakan fenomena budaya global dan menandai era keemasan arcade.

Di Indonesia, mesin dingdong mulai masuk sekitar tahun 1970-an, meskipun baru benar-benar populer pada dekade 1980-an. Menurut beberapa sumber, game arcade klasik seperti “Pong” sudah ada di Indonesia sejak tahun 1973, namun kehadirannya masih terbatas pada kalangan tertentu. Baru pada awal 1980-an, bersamaan dengan masuknya budaya pop Jepang melalui video Beta Max, dingdong mulai menyebar luas. Mesin ini menjadi hiburan baru yang terjangkau bagi berbagai kalangan, ditemukan di pusat perbelanjaan, bioskop, pasar, hingga ruko-ruko kecil. Permainan seperti “Street Fighter,” “Mortal Kombat,” dan “Cadillacs and Dinosaurs” menjadi favorit di era 1990-an, menciptakan kenangan bagi generasi yang tumbuh pada masa itu.

Namun, popularitas dingdong di Indonesia sempat terguncang. Pada tahun 1981, kekhawatiran muncul di kalangan orang tua dan guru bahwa permainan ini mendorong pemborosan dan perilaku judi di kalangan anak-anak. Hal ini memicu intervensi pemerintah. Panglima Kopkamtib Laksamana Sudomo, atas arahan Presiden Soeharto, memerintahkan pencabutan izin mesin dingdong di tempat umum. Akibatnya, bisnis dingdong sempat mati suri. Meski begitu, pada pertengahan 1980-an, industri ini bangkit kembali meskipun dengan regulasi yang ketat.

Masa kejayaan dingdong di Indonesia berlangsung hingga pertengahan 1990-an, ketika konsol rumahan seperti PlayStation, Nintendo, dan Sega mulai mendominasi pasar. Kemajuan teknologi, termasuk munculnya internet dan game online, semakin menggeser peran dingdong. Mesin yang mahal untuk dirawat dan minat yang menurun membuatnya perlahan menghilang dari tempat hiburan. Kini, dingdong lebih banyak ditemukan sebagai barang nostalgia, dikoleksi oleh penggemar atau tersedia dalam bentuk digital melalui emulator di ponsel dan PC.

Sejarah dingdong mencerminkan perjalanan hiburan interaktif, dari mesin sederhana hingga bagian dari kenangan kolektif, khususnya bagi generasi 80-an dan 90-an di Indonesia. Meski kejayaannya telah usai, daya tariknya tetap hidup dalam bentuk nostalgia dan adaptasi modern.

Terbit Nya Permainan Sabung Ayam Dan Melebar Luaskan Hingga Ke Asia.

  1. Asal Usul Kuno
    • Sabung ayam diperkirakan berasal dari Asia Tenggara atau anak benua India sekitar 6.000 tahun lalu. Beberapa ahli menduga ayam pertama kali didomestikasi dari ayam hutan merah (Gallus gallus) untuk keperluan ritual dan hiburan, termasuk adu ayam.
    • Bukti arkeologi, seperti segel dari peradaban Lembah Indus (2500–2100 SM), menunjukkan gambar ayam jantan yang diasosiasikan dengan pertarungan.
  2. Penyebaran ke Berbagai Budaya
    • Di Persia (sekitar 6000 tahun lalu, menurut beberapa sumber), sabung ayam sudah dikenal sebagai hiburan. Dari sana, praktik ini menyebar ke Tiongkok, India, dan kemudian ke Yunani Kuno sekitar abad ke-5 SM pada masa Themistocles.
    • Di Yunani, sabung ayam awalnya memiliki makna politik dan religius, tetapi kemudian menjadi hiburan umum. Bangsa Romawi kemudian mengadopsinya dan mempopulerkannya lebih luas.
  3. Sabung Ayam di Nusantara
    • Di Indonesia, sabung ayam telah ada sejak masa kerajaan. Catatan dari Chou Ju-Kua, seorang pejabat Dinasti Song pada abad ke-13, dalam bukunya Chu-fan-chi, menyebutkan bahwa masyarakat Jawa (Kerajaan Kadiri) gemar mengadu binatang, termasuk sabung ayam, sebagai hiburan.
    • Pada masa Singhasari, sabung ayam bahkan tercatat dalam cerita sejarah, seperti saat Panji Tohjaya mengajak Anusapati beradu ayam, yang berujung pada pembunuhan Anusapati.
    • Di Bali, sabung ayam (dikenal sebagai tajen) memiliki dimensi ritual dalam upacara Hindu untuk mengusir roh jahat, yang disebut tabuh rah, dan tetap dilestarikan hingga kini dengan aturan tertentu.
  4. Evolusi dan Perjudian
    • Seiring waktu, sabung ayam sering dikaitkan dengan perjudian, yang menjadi salah satu alasan utama popularitasnya sekaligus kontroversinya. Di banyak tempat, seperti Filipina (dikenal sebagai sabong), sabung ayam menjadi olahraga nasional yang diatur secara legal dan disiarkan secara luas.
    • Di era modern, dengan kemajuan teknologi, sabung ayam juga “terbit” dalam bentuk digital, seperti permainan daring atau taruhan online, yang memungkinkan orang menyaksikan dan bertaruh tanpa hadir di arena.

. Sabung ayam memang merupakan tradisi yang sudah ada sejak lama di berbagai budaya, terutama di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Secara historis, ini adalah bentuk hiburan yang melibatkan dua ayam jantan yang diadu dalam sebuah arena, sering kali dengan penonton yang antusias. Dalam konteks tradisional, sabung ayam tidak hanya tentang pertarungan, tapi juga memiliki nilai sosial, seperti mempererat komunitas atau menunjukkan status.

. Sekarang, dengan perkembangan teknologi, sabung ayam telah beradaptasi ke dunia daring. Platform taruhan online memungkinkan orang untuk bertaruh pada pertandingan secara virtual, baik melalui siaran langsung maupun simulasi. Ini tentu membawa dimensi baru, di mana aksesibilitas jadi lebih luas, tapi juga memunculkan isu hukum dan etika, tergantung pada regulasi di masing-masing negara. Di Indonesia sendiri, misalnya, perjudian termasuk sabung ayam daring berada dalam area abu-abu secara hukum—dilarang oleh undang-undang, tapi praktiknya masih marak.